Minggu, 07 November 2010

Kenapa Harus Sedih Saat Bersedih?

Semua orang pasti pernah merasa SEDIH, teman Anda, kerabat Anda, orang tua Anda, Anda sendiri, maupun saya sendiri pernah merasakannya.Banyak hal yang dapat memicu kita untuk merasakan kesedihan. Jika ditanya apakah yang menyebabkan seseorang itu bersedih, jawaban setiap orang pasti berbeda-beda mengingat permasalahan hidup yang dihadapi mereka berbeda juga. Kadang kita tahu betul apa yang membuat kita bersedih, namun kadang juga kita tidak mengetahui penyebab kesedihan kita. Salah seorang teman saya sering mengeluh "Terlalu banyak hal yang membuat saya sedih, mungkin hal yang paling membuat saya sedih adalah hidup saya sendiri, rasanya saya tidak ingin hidup lebih lama lagi". Wah rasanya kata-kata seperti sudah seringkali terucap jika kita merasakan kesedihan yang mendalam. Dan jika Anda kebetulan sedang mengalami perasaan yang sama seperti teman saya, saya harap Anda jangan berpikiran untuk mengakhiri hidup Anda sekarang, paling tidak selesaikan terlebih dahulu membaca tulisan saya.

KESEDIHAN adalah suasana hati yang sangat ingin kita jauhi, sebisa mungkin dalam menjalani kehidupan kita mengusir jauh-jauh yang namanya kesedihan, pasti semua orang ingin merasakan perasaan yang sebaliknya bukan? Kebahagiaan tentunya. Namun, jika kita mau memandang suatu kesedihan dari sisi lain, kita akan menemukan sebuah manfaat. Kesedihan juga mengandung energi-energi positif yang dapat menimbulkan kebahagian jika kita dapat mengelolanya dengan benar. Pada umumnya kesedihan menutup minat kita terhadap hiburan dan kesenangan, membuat perhatian kita terpusat pada apa yang telah hilang. Yang pada dasarnya perlakuan seperti itu sebenarnya merupakan penghimpunan energi kita agar kita dapat memulai langkah-langkah baru. Artinya kesedihan memaksa kita untuk berhenti dari kepenatan duniawi dan membuat perhatian kita terfokus terhadap kehilangan tersebut, merenungkan hikmahnya, dan pada akhirnya membuat penyesuaian-penyesuaian psikologis serta menyusun rencana-rencana baru yang akan memungkinkan hidup kita terus berjalan. Berduka itu bermanfaat tetapi depresi yang berkelanjutan adalah sia-sia.

DISAAT KITA BERSEDIH

Sedih merupakan perasaan yang Allah anugerahkan kepada manusia. Banyak hal yang membuat kita bersedih, cita-cita yang tidak tergapai, perbuatan atau perkataan orang yang menyakitkan hati, kehilangan orang yang kita sayangi, dan masih banyak yang lainya...
Kesedihan identik dengan linangan air mata, walaupun kebahagiaan juga terkadang terwarnai denganya, akan tetapi air mata lebih dekat dengan kesedihan. Menangis merupakan salah satu ekspresi lahiriah yang keluar dari kesedihan hati. Dari sudut pandang ilmu psikologi menangis mungkin merupakan salah satu penyehatan emosional, dengan menangis seseorang bisa mengurangi beban/himpitan jiwa yang sedang dirasakanya.
Maka wajar apabila dalam perjalanan hidup ini kemudian kita mengalami sesuatu hal yang menyebabkan kita bersedih. Namun sebagai seorang muslim kita tetap perlu mencontoh akhlak uswah teladan kita ketika sedang bersedih. Masih ingatkan, Rasulullah SAW mempunyai tiga anak lelaki yang kesemuanya meninggal pada waktu masih usia dini, sehingga beliau tidak mempunyai seorangpun anak lelaki yang hidup hingga dewasa. Pada zaman beliau hidup (mungkin saat ini juga masih banyak yang beranggapan) anak laki-laki dianggap sebagai pewaris keluarga, sehingga banyak musuh Rasullullah saat itu yang mengejek beliau dengan sebutan "Seorang yang TERPUTUS"
Saat anak pertama beliau Qasim meninggal pada saat usia balita, dengarlah apa yang dikatakan Rasul kita tercinta "Air mata boleh mengalir, hati boleh bersedih, tetapi lisan hanya boleh mengucapkan apa yang membuat Allah Ridha. Kami sungguh bersedih atas kematianmu" Subhanallah, demikianlah akhlak kekasih kita tercinta, sebagai seorang manusia Rasulullah juga menangis, bersedih dengan apa yang menimpa beliau, namun beliau tetap meletakkan "Assyaksyiyatul Islamiyyah/Kepribadian Islam" dalam setiap periode kehidupanya........Ya benar, Allah adalah tujuan hidup maka segala apa yang terjadi pada kita maka tetap kita harus mempertahankan bersikap dan berbuat yang hanya akan mendatangkan keridhoan Allah semata.
Begitulah, sehingga apabila kita bersedih dan menangis adalah suatu kewajaran, namun kita tetap harus tersadar bahwa apa-apa yang kita lakukan hendaknya tetap dalam kerangka mencari keridhoan Allah.